Selasa, 09 Agustus 2016

Menikmati Punthuk Setumbu di Magelang

Punthuk Setumbu ini ada di Magelang, tetapi lantaran semakin banyak paket perjalanan tawarkan keberangkatan dari Yogyakarta. Beberapa besar orang lebih mengetahui Punthuk Setumbu sebagai sisi dari destinasi wisata punya Yogyakarta. Walau sebenarnya yang sesungguhnya, Punthuk Setumbu yang mengasyikkan untuk nikmati matahari terbit ini ada di Magelang yang masihlah adalah sisi dari Propinsi Jawa Tengah. Nah lho, siapa yang buat salah kaprah?



Juga, saya tidak ingin memperdebatkan permasalahan lokasi, yang pasti dari tempat ini panorama matahari terbit demikian unik. Panorama seperti ini tak dapat diketemukan dimana saja di Indonesia terkecuali di Punthuk Setumbu yang ada di Dusun Kerahan, Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Dari Setumbu panorama sunrise bakal tampak cantik dengan latar belakang Candi Borobudur yang terkadang diselimuti kabut tidak tebal.

Dengan kekuatan nyetirnya yang sebelas dua belas seperti Dominic Toretto di film Fast And Furious, Pak Parwoto mengantarkan kami dengan selamat serta pas saat sampai pintu masuk Punthuk Setumbu. Terkecuali Pak Parwoto yaitu ingindara yang handal, lantaran masihlah pagi, selama perjalanan menuju Punthuk Setumbu condong sepi. Mobil yang kami tumpangi cuma pernah memperoleh kendala bermakna saat melalui Pasar Muntilan yang telah repot mulai sejak awal hari.

Loket ini buka dari mulai jam 4 pagi.

Untuk wisatawan lokal seperti kami harga ticket masuk Punthuk Setumbu yaitu IDR 15. 000 per orang.

Kami tiba di tujuan sekitaran jam 1/2 enam pagi, sebagian puluh menit sebelumnya injury time serta matahari mulai terbit dari ufuk timur. Tanpa ada menghabiskan waktu, kami selekasnya beli ticket masuk menuju Punthuk Setumbu. Ticket masuk menuju Punthuk Setumbu yaitu IDR 15. 000 untuk wisatawan lokal seperti kami, serta IDR 30. 000 untuk beberapa turis asing. Tidaklah terlalu mahal sih, untuk semuanya yang dapat diliat nanti.

“Punthuk Setumbu 300 M” Catat di satu papan berwarna hijau yang ada pas di pintu masuk obyek wisata ini. Dari loket tempat pembelian ticket, memanglah kami mesti sedikit trekking dengan jalur yang sedikit menanjak. Tenang saja, walau menanjak, jalur menuju tempat lihat sunrise-nya masihlah manusiawi serta adalah jalan setapak yang nyaman. Di papan berwarna hijau tadi juga dituliskan bila Punthuk Setumbu mulai buka dari jam 04. 00 – 17. 00, juga kelihatannya panorama paling baik yaitu saat matahari terbit saja.

Panorama dari Punthuk Setumbu sebelumnya matahari memperlihatkan wujudnya.
Menuju ke Punthuk Setumbu tanpa ada memakai paket perjalanan sesungguhnya dapat juga, asal, tahu arah menuju ke Magelang. Langkah yang paling mudah menuju Punthuk Setumbu yaitu dengan menuju ke Candi Borobudur yang juga ada di Magelang. Punthuk Setumbu bakal ada sebagian km. di arah barat Candi Borobudur. Gampangnya, setelah tiba di dekat Candi Borobudur mencari saja arah menuju Hotel Manohara lantaran Punthuk Setumbu ada tak jauh dari hotel itu. Bila bingung dapat mencari dengan memakai Google Maps, atau yang paling mudah minta diantarkan sama hotel seperti saya. Bila dapat lebih mudah, mengapa dibikin ribet, iya toh? : D

Sesudah menggunakan saat pada 15-20 menit trekking enteng, kami hingga di view point Punthuk Setumbu. Walau tidaklah terlalu penuh, nyatanya telah banyak pengunjung yang datang lebih dulu. Semua dengan sabar menanti di dekat pagar pembatas tebing serta jurang. Kelihatannya kami datang pas saat, matahari belum memperlihatkan wujudnya dari ufuk timur, juga semburat sinar tidak tebal telah mulai berpendar.

Dapat tebak Candi Borobudur yang mana?

Dengan sedikit samar Candi Borobudur yg tidak jauh dari Punthuk Setumbu telah mulai tampak dengan diselimuti kabut tidak tebal, ditemani dengan dua gunung tinggi ada disamping kirinya. Dua buah gunung tadi yaitu Gunung Merapi serta Gunung Merbabu yang memberi situasi syahdu pagi hari di Punthuk Setumbu. Bukit tempat mencermati matahari terbit serta Candi Borobudur dari kejauhan ini mungkin saja cuma seluas lapangan basket, tak lebih.

Dilengkapi dengan satu gardu pandang yang eksklusif, yang cuma dapat dipakai oleh sebagian orang saja. Saya juga tidak paham mesti membayar berapakah supaya dapat memakai gardu pandang tadi. Tetapi beberapa orang termasuk juga kami lebih sukai bergerombol di dekat pagar pembatas, sembari mengarahkan pandangannya ke arah timur menanti matahari yang selekasnya terbit. Di sini juga disiapkan sebagian kursi yang terbuat dari bambu untuk siapa saja yang menginginkan duduk serta beristirahat.

Saat matahari mulai memperlihatkan wujudnya yaitu situasi yang paling mengasyikkan di Punthuk Setumbu.

Ada yang berkemah di Punthuk Setumbu, kelihatannya memanglah bisa ya
Berkemah di Punthuk Setumbu kelihatannya juga diijinkan, lantaran saat kami bertandang, pernah tampak ada dua buah tenda berdiri disalah satu sudutnya. Mungkin saja mereka tidak ingin kehabisan tempat, sehinga dari pada berdesakan untuk mencari tempat paling baik, mereka lebih pilih untuk membangun tenda. Begitu mereka dapat bersiap lebih awal.

Tak berapakah lama sesudah kami hingga, matahari mulai tampak. Intensitas nada shutter kamera mulai terdengar seringkali. Semuanya pandangan mata, kamera seolah tertuju ke arah timur, matahari serta Candi Borobudur. Saya juga tidak ingin ketinggal, Kamera Sony Nex F3 yang paling disayangi saya mulai bekerja dengan giat, walau dengan lensa seadanya.

Semestinya sih saya mengabadikan dengan lensa telephoto supaya memperoleh photo Candi Borobudur yang tengah berselimut kabut dengan close up angle. Atau mengabadikan lansekap sekitaran termasuk juga dua Gunung yang ada di samping kiri Candi Borobudur dengan pertolongan lensa wide angle. Tetapi apa daya, saya mesti tetaplah berkreasi walau dengan lensa yang seadanya. Toh, dibanding kamera atau lensa, yang paling utama kan man behind the camera-nya.

Untuk lihat panorama seperti ini di Punthuk Setumbu, butuh sedikit perjuangan.
Panorama dari Punthuk Setumbu memanglah tidak ada duanya, hingga dapat bikin siapa saja terlena atau bahkan juga sangat asyik mengabadikannya dengan kamera seperti saya. “Mas, sini deh” Panggilan istri menyadarkan saya untuk berhenti sesaat dari bergelut dengan kamera. Dia tampak tengah asyik mengobrol dengan seseorang lokal yang umurnya sangka – sangka sama juga dengan saya. Mudah-mudahan dia tak tengah berencana yang aneh – aneh. “Mas, sini deh dibawah sana menurutnya ada bangunan Gereja yang memiliki bentuk serupa ayam. Ingin ke sana apa? ” Lanjut istri saya saat saya mendekat.

Kebiasaanya memanglah demikian, sukai SKSD sama siapa saja bila tengah traveling. Yah, saya maklum sih kebiasaanya itu juga yang pada akhirnya mempertemukan kami di Bali. Kesempatan ini dia kelihatannya sukses menggaet seseorang cowok, yang menurutnya bersedia mengantarkan kami ke satu bukit di mana ada satu Gereja yang bentuk bangunananya aneh. Juga awalannya saya sedikit malas plus berprasangka buruk, tetapi pada akhirnya saya meng-iyakan juga. Dengan tetaplah siaga, kami menuju bukit yang pada akhirnya saya kenali bernama Bukit Rhema dengan bangunan Gereja Ayam-nya itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.